Tulang Bawang Barat, INC MEDIA. – Pembangunan dua titik sumur bor yang bersumber dari Dana Desa Tahun 2024 di Tiyuh Candra Mukti, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, menuai sorotan warga. Pasalnya, kedua sumur bor tersebut memiliki kualitas bangunan yang berbeda, meski menggunakan anggaran yang sama.
Menurut keterangan warga yang enggan disebutkan namanya, terdapat kejanggalan dalam proyek tersebut. “Di Tiyuh Candra Mukti tahun ini ada dua sumur bor yang dibangun dengan nominal anggaran yang sama. Namun, bentuk bangunannya berbeda. Salah satu sumur bor memiliki konstruksi yang lebih baik, sementara yang satunya terlihat lebih sederhana, yang berarti nilainya lebih rendah. Selain itu, satu sumur bor dibangun di belakang rumah kepala tiyuh (kepalo), padahal di area tersebut sudah ada sumur bor lain,” ungkapnya, Selasa (11/3/2025).

Selain proyek sumur bor, warga juga menyoroti pembangunan jembatan di Suku 4 yang berbatasan dengan Tiyuh Candra Kencana. “Jembatan itu menelan anggaran lebih dari Rp30 juta, tapi kalau dinilai dari bentuk fisiknya, sepertinya tidak mencapai Rp10 juta,” tambah sumber yang tidak ingin disebut namanya.
Sementara itu, Riyanto, selaku RK 1 Candra Mukti, mengakui bahwa memang ada dua titik pembangunan sumur bor, satu di RK 1 RT 3 dan satu lagi di RK 3 RT 16, yang terletak di belakang rumah kepala tiyuh. Namun, ia mengaku tidak mengetahui detail anggaran pembangunan. “Kami hanya sebagai penerima manfaat. Yang mengerjakan proyek ini adalah tukang dari warga sendiri, yang dikoordinasi oleh Ketua TPK yang juga merangkap sebagai kaur perencanaan. Setahu saya, anggarannya sekitar Rp31 juta lebih, dan semua pembelanjaan dilakukan oleh kaur perencanaan. Kalau soal kualitas bangunan, itu harusnya sesuai dengan Rencana Anggaran dan Belanja (RAB) yang ada di Mas Sukron,” jelasnya.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan bahwa kedua sumur bor yang telah dibangun memang memiliki wujud berbeda. Salah satunya menggunakan konstruksi cor beton, sementara yang lain hanya berupa kerangka besi. Hal ini semakin memperkuat dugaan adanya ketidaksesuaian anggaran dalam pembangunan.

Tim media berupaya mengonfirmasi hal ini kepada Ketua TPK sekaligus kaur perencanaan, Sukron Maknun. Namun, saat didatangi ke rumahnya, ia tidak berada di tempat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait.
Warga Pertanyakan Transparansi Anggaran
Sejumlah warga berharap agar pemerintah desa memberikan penjelasan terkait perbedaan kualitas pembangunan tersebut. Mereka meminta agar ada transparansi dalam penggunaan Dana Desa, mengingat program ini seharusnya memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Jika dugaan penyimpangan ini terbukti, maka perlu ada tindak lanjut dari pihak berwenang untuk memastikan bahwa dana yang dialokasikan benar-benar digunakan sebagaimana mestinya. Masyarakat pun mendesak agar ada audit dan pengawasan ketat terhadap proyek-proyek yang didanai oleh Dana Desa guna mencegah praktik yang merugikan kepentingan warga.












