Silaturahmi di Solo Jadi Momen Strategis Bahas Politik Global dan Konsolidasi Nasional

SOLO, INC MEDIA – Presiden RI Prabowo Subianto mengunjungi kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Solo, Minggu petang (20/7/2025). Kunjungan ini dilakukan sebelum Prabowo menghadiri penutupan Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Foto Dok. Haris efendi : Agen PPOB murah, mudah dan Aman, Download INC Pay di Google Play Store Anda

Rombongan Presiden tiba di Bandara Adi Soemarmo pukul 17.30 WIB dan langsung menuju kediaman Jokowi di Sumber, Banjarsari. Sekitar pukul 18.10 WIB, Prabowo yang didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka disambut hangat oleh Jokowi. Momen tersebut menjadi sorotan warga dan media, yang menilai pertemuan sebagai simbol kesinambungan dan kedekatan antara dua tokoh penting bangsa.

BACA JUGATwo Pillars Resmi Perkenalkan Logo Gubernur Slowpitch Tournament 2025, Simbol Semangat Softball Lampung

Dalam pertemuan sekitar 45 menit itu, Prabowo menjelaskan dirinya ingin bersilaturahmi sekaligus melaporkan capaian diplomatik dari lawatan ke berbagai negara. Ia menyebut pertemuan informal tersebut membahas sejumlah terobosan penting, terutama kerja sama dagang dengan Uni Eropa.

“Umum saja, saya cerita [ke Pak Jokowi] baru berkeliling dari luar negeri. Beliau juga mengikuti, rupanya. Saya ceritakan terobosan-terobosan yang kami dapat kemarin, terutama dengan Uni Eropa. Sepuluh tahun perundingan akhirnya tembus,” ungkap Prabowo di kediaman Jokowi.

Prabowo juga menyinggung kunjungannya ke pertemuan BRICS di Brasil, serta lawatan ke Prancis, London, dan komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump. Ia bahkan sempat menjajaki kerja sama komoditas dengan Belarus. Negara itu tertarik dengan karet dan cokelat dari Indonesia, seiring lonjakan harga akibat serangan wabah di Amerika Latin dan Afrika.

“Mereka punya potash, mereka butuh karet kita, mereka butuh banyak komoditas kita. Ternyata harga cokelat dunia sedang sangat tinggi. Maka kita harus segera lakukan peremajaan dan pembibitan baru,” jelasnya.

Jokowi, menurut Prabowo, menunjukkan apresiasi terhadap kemajuan diplomatik tersebut, terlebih banyak inisiatif telah dimulai sejak masa pemerintahannya.

“Seperti perundingan dengan Uni Eropa yang sudah berjalan 10 tahun. Beliau mengerti betapa alot. Tapi sekarang kedua pihak berkepentingan untuk menyelesaikannya cepat. Dan alhamdulillah, ini kehormatan bagi Indonesia,” ujarnya.

Prabowo juga menceritakan penerimaan hangat dari pemimpin Eropa, termasuk Raja Belgia yang disebutnya sengaja kembali ke istana demi menemuinya.

“Kadang-kadang memang capek keliling dunia, tapi pendekatan personal antara pemimpin sangat penting. Itu yang bangun kepercayaan,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tetap memegang prinsip non-blok, menjalin hubungan baik dengan semua pihak—baik BRICS, OECD, CPTPP, hingga IPEF.

“Indonesia diterima semua pihak karena kita netral, menghormati semua negara, dan tidak mau ikut campur urusan dalam negeri negara manapun,” tegasnya.

BACA JUGABimtek BUMDes Lampung Selatan Dorong Profesionalisme dan Sinergi

Setelah bersilaturahmi, Prabowo melanjutkan agenda menuju Kongres PSI, tempat ia dijadwalkan memberikan pidato penutup.

“Saya akan ke kongres PSI. Saya minta maaf saya harus ganti, ya, oke,” katanya sambil pamit.

Kehadiran Prabowo ke Solo bersama sejumlah pejabat negara seperti Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Wakil Menkominfo Angga Raka Prabowo, makin menegaskan bobot strategis kunjungan tersebut.

Tak hanya menjadi ajang silaturahmi, pertemuan ini juga mengirim pesan kuat ke publik. Kedekatan antara Prabowo dan Jokowi di tengah transisi pemerintahan dinilai para pengamat sebagai penanda stabilitas nasional.

“Ini sinyal kuat bahwa tidak ada friksi, dan Jokowi tetap menjadi figur penting dalam peta kekuasaan,” ujar analis politik Universitas Sebelas Maret, Dedi Kurniawan.

Kunjungan ini juga menjadi penanda konsolidasi politik menuju pembentukan kabinet baru serta memperkuat posisi Indonesia di pentas internasional.**