Lampung Selatan, INC MEDIA — Puluhan warga dari Desa Tanjung Sari dan Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, turun ke jalan menggelar aksi protes di depan kantor PT Talun Jaya Abadi, Minggu (22/6/2025). Mereka menuntut pemecatan petugas keamanan perusahaan yang dinilai arogan, serta mempertanyakan legalitas dan kontribusi perusahaan selama delapan tahun terakhir.

Koordinator aksi, Imam Safei, menyatakan bahwa keberadaan perusahaan selama ini tidak membawa manfaat, bahkan justru merugikan masyarakat sekitar.
“PT ini sudah 8 tahun beroperasi, namun tidak pernah memberikan kontribusi kepada masyarakat, baik dalam bentuk CSR maupun dukungan kepada tenaga kerja lokal. Justru, rekrutmen tenaga kerja dilakukan secara tidak adil dan pilih kasih,” tegas Imam.
Selain itu, warga menyoroti dugaan bahwa PT Talun Jaya Abadi tidak memiliki izin lingkungan yang sah dan tidak pernah terbuka soal perizinan lain.
“Satpamnya arogan. Sering berkata kasar, bahkan berani main tangan. Ini sudah sering kami dengar dan alami,” tambah Imam.
BACA JUGA : Semarak Hari Bhayangkara ke-79, Polres Pesawaran Gelar Olahraga Bersama Forkopimda dan Masyarakat
Dalam aksi tersebut, warga memblokir jalan akses ke kantor perusahaan yang diklaim sebagai milik masyarakat. Mereka memperbolehkan masyarakat umum melintas, tetapi melarang staf dan karyawan perusahaan menggunakan jalan tersebut.
“Jalan ini milik masyarakat. PT hanya numpang lewat. Maka kami tutup aksesnya agar mereka tahu bahwa keberadaan mereka tidak bisa semena-mena,” ujar Imam.
Imam juga menyoroti perubahan fungsi lahan pasca pendirian perusahaan. Awalnya lahan tersebut merupakan bagian dari kelompok tani, namun setelah perusahaan berdiri, kelompok tani tersebut dibekukan dan dikuasai oleh pihak-pihak yang diduga dekat dengan perusahaan.
Orator lain dalam aksi itu mengungkap dugaan penyalahgunaan lahan untuk menyimpan alat berat dan alsintan milik pemerintah yang sebelumnya pernah terlihat berlogo Kementerian Pertanian.
“Dulu kami melihat ratusan alat mesin pertanian (Alsintan) berlogo Kementerian Pertanian diparkir di sini. Tapi sekarang, semua alat itu lenyap tanpa jejak,” ungkapnya.
BACA JUGA : Pemerintah Evakuasi 115 WNI dari Iran Lewat Jalur Darat Menuju Azerbaijan
Warga mencurigai bahwa lahan perusahaan digunakan sebagai “garasi tersembunyi” alat-alat berat yang diduga berasal dari bantuan pemerintah.
Tak hanya itu, warga mengecam sikap perusahaan yang dinilai tertutup dan enggan membantu masyarakat sekitar.
“Jangankan bantuan, alat-alat yang ada pun tidak pernah boleh dipinjam oleh warga meski untuk kepentingan umum. Ini sangat tidak adil!” ujar Imam dengan nada kecewa.**












