Tulang Bawang Barat, INC MEDIA – Di tengah gencarnya program kesehatan nasional, masih ada warga yang terjebak dalam kesulitan tanpa akses layanan medis yang layak. Dua pasien dari Tiyuh berbeda di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) kini berjuang melawan sakit parah, tetapi terkendala biaya karena BPJS mereka tidak lagi aktif.

Foto Dok INC Media : Agen PPOB murah, mudah dan Aman, Download INC Pay di Google Play Store Anda

Salah satu pasien, warga Tiyuh Gunung Katun Malay, menderita maag akut yang semakin parah. Tubuhnya terus-menerus demam, dan ia mengalami kesulitan buang air besar maupun kecil. Ia sempat dirawat di RSUD Tubaba dengan biaya umum, tetapi keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu melanjutkan pengobatan. Pihak rumah sakit telah memberikan keringanan sebesar Rp 800.000, namun itu belum cukup untuk menutupi kebutuhan medisnya.

Dulunya, pasien ini memiliki BPJS gratis yang dibiayai oleh APBD Tubaba. Namun, saat kartu BPJS itu dinonaktifkan, keluarga tak sanggup membayar tunggakan agar bisa kembali digunakan.

“Kami sudah berusaha, tapi biaya yang harus dibayarkan terlalu besar untuk kami. Untuk biaya rumah sakit saja, kami harus mengumpulkan uang dari keluarga besar,” ujar salah satu anggota keluarga pasien, Jumat (28/3/2025).

BACA JUGA : Perkuat Sinergi Media dan Kepolisian, Intelkam Polda Lampung Gelar Buka Puasa Bersama FKW-KP

Kondisi pasien saat ini kian memburuk. Ia hanya bisa terbaring lemah, menanti keajaiban agar dapat kembali menjalani pengobatan. Semangatnya untuk sembuh masih kuat, tetapi tanpa bantuan pemerintah, harapan itu semakin redup.

Kasus Serupa di Panaragan Jaya

Di tempat berbeda, Sukiah, warga Kelurahan Panaragan Jaya, RT 001 RW 008, juga menghadapi penderitaan serupa. Ia menderita stroke berat yang membuat separuh tubuhnya lumpuh. Parahnya lagi, penyakit ini telah merambah ke matanya, menyebabkan rasa panas luar biasa sejak dua tahun lalu.

Sukiah sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Assyifa, tetapi karena keterbatasan biaya dan BPJS yang tidak aktif, pengobatan itu terhenti. Sejak saat itu, kondisi kesehatannya terus menurun.

Suaminya, Amaludin, kini tak berdaya untuk membiayai perawatan istrinya. Ia hanya bisa berharap kepada pemerintah agar BPJS istrinya dapat diaktifkan kembali.

“Saya sudah tak mampu lagi membiayai pengobatan istri saya. Harapan saya hanya satu, pemerintah bisa membantu mengaktifkan BPJS agar ia bisa berobat lagi,” ucap Amaludin dengan suara penuh harap.

Keluarga Sukiah juga menuturkan bahwa selama ini mereka belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah Tubaba. Mereka hanya ingin keadilan dan perhatian bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Harapan untuk Pemerintah dan Para Dermawan

Kisah dua pasien ini hanyalah potret kecil dari banyak warga yang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan karena kendala administratif dan ekonomi. Akankah pemerintah daerah segera turun tangan untuk mengembalikan hak mereka atas layanan kesehatan?

BACA JUGA : 1.604 Aduan THR Masuk ke Kemnaker, Menaker: Perusahaan Bisa Kena Sanksi Berat!

Bagi para dermawan yang tergerak hatinya, inilah saatnya untuk berbagi kepedulian. Bantuan sekecil apa pun dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang melawan sakit.

Penderitaan mereka tidak seharusnya menjadi cerita yang dibiarkan berlalu begitu saja. Saatnya bertindak, sebelum harapan mereka benar-benar sirna.

(Wawan Hidayat)